Sabtu, 04 Juli 2020

Resensi Buku: Animal Farm



Judul         : Animal Farm
Penulis     : George Orwell
Penerbit   : Bentang Pustaka
Tahun       : 2015
Halaman  : iv+144 halaman
ISBN          : 978-602-291-282-8

Animal Farm adalah sebuah novel klasik karya George Orwell yang mendapat penganugerahan Retro Hugo Award (1996) novela terbaik dan Prometheus Hall of Fame Award (1996), yang kemudian melejitkan namanya. Novel ini ditulis pada masa Perang Dunia II sebagai bentuk satire terhadap totaliterisme Uni Soviet. 

Kisah dimulai dari Major, seekor babi tua yang menceritakan mimpinya mengenai pemberontakan binatang: dimana para binatang akan berkuasa atas dirinya sendiri, bahwa mereka semua akan segera terbebas dari tirani manusia. 

Benar saja, pemberontakan itu terjadi lebih cepat dari perkiraan. Dipimpin oleh dua babi cerdas Snowball dan Napoleon mereka berhasil menggulingkan tirani manusia dan menghentikan perbudakan. Setiap minggunya para binatang akan berkumpul untuk rapat, dan membahas nasib mereka selanjutnya. Namun, di antara mereka, tanpa disengaja selalu mempunyai pandangan yang berbeda. Pandangan itu membuat keduanya larut perdebatan panjang.  

Sayangnya, kekuasaan benar-benar memabukkan. Secara cepat, Visi dan misi awal mengenai penghapusan tirani tidak berjalan dengan semestinya. Dualisme tidak dibiarkan begitu saja, dan salah satu benar-benar harus disingkirkan melalui cara apapun. 

Novel ini ringan untuk dibaca, namun penuh dengan keserakahan pemimpin. Kita akan berapi-api dan marah, mengetahui bahwa binatang-binatang yang tidak begitu pandai dibodohi oleh binatang lainnya yang dianggap lebih tinggi derajatnya. 

Kesetaraan menjadi semakin jauh dan samar, demokrasi yang digalakkan di awal bab berubah jadi kepemimpinan otoriter dimana pemimpin selalu benar. Tirani kembali, tiga kali lipat lebih parah dibandingkan sebelum terjadi pemberontakan.

Lagu "binatang inggris" yang dilantunkan sebelum pemberontakan terjadi menguap semangatnya, dan jadi hilang begitu saja. Novel ini layak dibaca oleh seluruh pecinta novel klasik.

Kamis, 02 Juli 2020

Review Buku: How to Respect Myself



Judul       : Buku How to Respect Myself
Penulis   : Yoon Hong Gyun
Penerbit : Transmedia
ISBN        : 978-623-710-033-1



How to Respect My Self adalah buku psikologi berisikan metode pelatihan mandiri dan kiat-kiat untuk meningkatkan harga diri yang ditulis oleh Yoon Hong Gyun seorang dokter kejiwaan korea selatan. 

Awalnya, saya merasa bahwa semua buku dengan label pengembangan diri sama saja. Tidak akan memberikan dampak besar bagi kejiwaan, apalagi terhadap orang-orang yang memiliki problem tentang harga diri. Namun, pemikiran itu berubah setelah saya memberanikan diri untuk membaca dan menyelaminya. 

Buku ini berisikan fakta-fakta: masalah tentang hubungan interpersonal yang sering menjadi masalah bagi seseorang. Hubungan yang tidak baik dengan sesama ternyata bisa memberikan perasaan negatif. Setiap orang selalu berusaha memikirkan perkataan orang lain dan tidak punya waktu untuk memikirkan dirinya sendiri.

Oleh sebab itu, kita tidak sepatutnya menganggap diri tidak berguna hanya karena satu identitas kita lemah. (Hlm 96) 

Manusia tidak hanya memiliki satu identitas. Tidak disarankan untuk mengutuk diri karena kita tidak diakui di tempat kerja, menganggap diri tidak berguna karena dianggap sebagai menantu yang tidak baik. Karena kita masih bisa eksis sebagai teman, pacar, orangtua, sukarelawan, penganut agama, atau rakyat. Jangan membiarkan masalah seperti ini mempengaruhi pikiran kita, hanya karena tak mampu mempertahankan diri pada satu tempat.

Buku ini menjaga kewarasan, karena penulis benar-benar meletakkan diri kita sebagai fokus dan pusat. Diri kita adalah aset berharga yang benar-benar layak dicintai. Stigma dan tuduhan negatif terhadap diri sendiri harus segera disingkirkan. 

Ada salah satu kutipan yang menohok hati saya, "Saya saja tidak memahami diri saya sendiri maka bagaimana mungkin saya meminta mereka memahami saya. Saya menjalani masa itu dengan tutup mulut. Sepertinya itu pertama kalinya saya mengetahui betapa kesepiannya tidak bisa mencintai diri sendiri." (Hlm 29) 

Betapa kesepiannya tidak bisa mencintai diri sendiri. Kita sering memikirkan bahwa sendirian adalah hal yang benar-benar menyengsarakan, padahal tidak demikian. Kita hanya tidak tahu bagaimana menyikapinya. Kita terlalu semena-mena memandang diri kita, hingga membuat dugaan-dugaan yang justru membuat harga diri kita semakin melemah. 

Banyak sekali pembahasan seputar harga diri yang ada dalam buku ini. Juga dilengkapi dengan panduan-panduan sederhana untuk meningkatkan kepercayaan diri dan mengontrol emosi. 

Buku ini benar-benar penuh dengan kesegaran dan sangat layak dibaca oleh orang-orang yang merasa insecure dalam hidup untuk mendapat prespektif berbeda tentang harga diri dan bagaimana itu bisa mempengaruhi setiap hal dalam kehidupan kita. 

Senin, 29 April 2019

LRT Sebagai Kiblat Transportasi Ramah Lingkungan




                      sumber gambar : merdeka.com


Dewasa ini jumlah kendaraan di Indonesia khususnya mobil naik hingga 10 sampai 15 persen per tahunnya, atau setara dengan satu juta unit. Daerah di indonesia yang penduduknya paling banyak menggunakan mobil adalah Jakarta. Karena mobil dianggap sebagai sarana transportasi yang cukup efisien dan bergengsi bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia terkhusus di Jakarta .

Mobil sudah menjadi salah satu gaya hidup masyarakat perkotaan khususnya di ibukota. Namun karena besarnya jumlah beredar mobil dan kendaraan bermotor lainnya, mengakibatkan semakin sedikit lahan kosong yang berada di ibukota digantikan lahan parkir untuk mobil dan sepeda motor yang semakin meluas. Hal ini menyebabkan kurangnya ruang gerak masyarakat, sehingga terjadilah masalah kemacetan yang tiap tahunnya menjadi paradoks yang dianggap biasa saja bagi sebagian penduduk di ibukota, meski sangat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Menurut perhitungan Bappenas kerugian yang diakibatkan dari sisi keuangan mencapai 100 triliun per tahun untuk mengatasi masalah kemacetan, namun belum tampak perubahan yang berarti. Hal ini diakibatkan karena konsumsi kendaraan sebagai sarana transportasi masyarakat semakin tinggi. Masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi ketimbang menggunakan angkutan umum atau jasa lainnya yang sebenernya lebih efisien.

Masalah lainnya yang timbul akibat membludaknya jumlah kendaraan tidak ramah lingkungan di ibukota adalah pencemaran udara. Kendaraan khususnya mobil atau pengangkut barang yang menggunakan solar dan minyak, mengeluarkan limbah asap yang mengandung karbon dioksida saat beroperasi. Maka tidak kaget apabila Indonesia menjadi penyumbang emisi karbon tertinggi keenam dunia diantara Negara penyumbang emisi karbon yang dirilis oleh World Resource Institut (WRI). Genap sudah rekor Indonesia menjadi penyebab kerusakan lingkungan.

Menyoroti hal ini, mentri perhubungan mulai gencar membangun infrastruktur transportasi seperti LRT, karena dianggap biaya untuk membangun LRT lebih kecil dibandingkan kerugian yang sudah dikeluarkan untuk mengentaskan kemacetan di ibukota. Biaya pembangunan yang dihabiskan untuk membangun LRT adalah sekitar 11,9 triliun untuk rute setara dengan 42,1 km, ini sangat efektif untuk menjadi alternatif masyarakat.melakukan aktivitas ketimbang harus berurusan dengan macet yang tak kunjung sirna.

LRT merupakan kendaraan berbasis rel yang ramah lingkungan berjumlah 3 gerbong. LRT sendiri hampir mirip dengan kereta atau MRT hanya saja jumlah gerbongnya lebih sedikit, namun mampu memuat hingga 24 ribu penumpang setiap harinya, dan terdiri dari 60 set. Untuk harganya sangat ekonomis dan terjangkau.

LRT Jakarta memiliki teknologi canggih yang dapat membuat kereta melesat dengan aman dan luwes mengikuti kontur jalan trek bahkan pada tikungan tajam radius 40 meter. Sehingga penumpangnya dapat menikmati perjalanan dengan nyaman. Dari kemampuan tersebut LRT Jakarta sesuai dengan prinsip ekofisiensi, dimana sangat ramah lingkungan.

Melihat dari masalah-masalah yang sudah menjadi paradoks di Negara kita, pengembangan transportasi ramah lingkungan sangat penting diprioritaskan, dan peran pemerintah dalam membangun infrastruktur seperti LRT merupakan sesuatu yang tepat.

Di sebagian besar negara maju, LRT digunakan sebagai transportasi utama dan sulit ditinggalkan karena ramah lingkungan dan efisien. Melihat negara-negara maju yang memiliki sistem transportasi dan teknologi yang baik, dapat menjadi kiblat bagi bangsa Indonesia untuk mencapai pembangunan yang berhasil khususnya dalam hal transportasi, serta mewujudkan sistem transportasi yang ramah lingkungan melalui LRT.

Peran pemerintah untuk meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan menjadi salah satu pendorong LRT dapat berkembang dan semakin terdepan di negara-negara maju. Dan di asia tenggara sendiri, LRT dapat ditemukan di Singapura dan Malaysia, masyarakatnya banyak menggunakan kemudahan fasilitas ini untuk beraktivitas seperti bekerja sedangkan anak-anak sekolah menggunakan bus, atau sepeda pancal.

Namun, bila kita melihat realita yang ada di Indonesia, masyarakat cenderung apatis terhadap perubahan dan gejolak jaman, serta seringkali menutup mata terhadap kemungkinan buruk yang bisa terjadi di masa depan, apabila secara terus-menerus masih memiliki minat yang besar mengoleksi transportasi pribadi seperti mobil maupun sepeda motor.

Dalam waktu yang singkat saja, kendaraan pribadi dapat menukik tajam angkanya dari tahun ke tahun, bukan tidak mungkin, lama kelamaan apabila masalah ini masih dibiarkan, akan menutup akses jalan, dan tidak ada kendaraan yang dapat bergerak sama sekali.

Ini menjadi suatu masalah yang amat memprihatinkan dan mengancam masa depan bangsa. Apabila transportasi terhambat, maka laju perkembangan, pertumbuhan ekonomi nasional tidak akan berjalan baik, justru akan mengikis APBN dan menimbulkan defisit yang memerosotkan kekayaan negara untuk megentaskannya, akibat masalah kemacetan serta polusi dari kendaraan yang tidak ramah lingkungan. Tentu saja akan lebih rumit untuk menyelesaikannya secara cepat.

Analisis mengenai dampak lingkungan perlu dilakukan untuk mengetahui sebesar apakah masalah kemacetan dan polusi yang terjadi selama bertahun-tahun di Indonesia khususnya daerah Jakarta. Kemudian dari analisis AMDAL barulah pemerintah menentukan kebijakan yang akan dilaksanakan demi tercapainya pembangunan berkelanjutan.

Pembangunan berkelanjutan sendiri berarti membangun dan memanfaatkan sumber daya yang ada dengan melihat generasi yang akan datang, bukan malah menghabiskannya atau merusaknya.

Ini tentu saja menjadi masalah bersama, bukan hanya perorangan. Pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama, membangun itikad baik, bukan saling salah-menyalahkan, namun mencari solusi yang terbaik untuk mengikis perlahan-lahan dampak yang ditimbulkan, agar tidak melebar kemana-mana.

Salah satu solusi yang bisa dilaksanakan dalam jangka pendek, namun berdampak di masa yang akan datang, adalah mengubah pola transportasi sehari-hari menggunakan LRT. Dengan begitu, angka kemacetan dan polusi akan berkurang drastis. Pemerintah perlu mengalokasikan dana untuk membangun LRT agar merata di seluruh wilayah Indonesia, supaya tidak hanya warga dengan penduduk padat saja yang bisa merasakan manfaat dari LRT, namun seluruh rakyat Indonesia berhak menikmati fasilitas yang sangat efisien dan ramah lingkungan ini.

Namun karena pola pikir masyarakat yang masih belum berubah, fasilitas LRT tidak dimanfaatkan dengan baik, hal ini dibuktikan LRT sepi pengunjung sejak awal dirilis atau dibuka. Masyarakat sudah terlanjur nyaman dengan kendaraan pribadi mereka, karena dianggap praktis dan tidak perlu ribet saat mau bekerja atau bepergian .

Pola pikir tersebut yang perlu diubah. Pemerintah bisa membuat undang-undang mengenai jumlah kendaraan yang boleh dimiliki satu keluarga, atau bisa melakukan tindakan preventif agar jumlah kendaraan yang menyebabkan polusi dan kemacetan dapat turun drastis dengan cara mengajak dan sosialisasi agar masyarakat mau menggunakan fasilitas umum yang tersedia.
Adanya LRT di Jakarta seharusnya membawa dampak positif bagi masyarakat terkhusus mengurangi kemacetan dan polusi. Karema LRT juga merupakan transportasi yang cepat dan nyaman, serta mampu menghubungkan costumers ke daerah-daerah yang masih mengalami kemacetan, khususnya JABODETABEK.

Dengan adanya transportasi ini, masyarakat bisa menghindari kemacetan dan mengubah paradoks tersebut, ketimbang harus berlama-lama di jalan raya dengan peraaan gelisah dan lelah, apalagi selepas melakukan pekerjaan berat atau sedang dikejar deadline.

Pemerintah juga tidak perlu mengeluarkan anggaran yang bisa dibilang sia-sia saja tiap tahun, akibat kemacetan yang terjadi. Cukup dengan membangun infrastruktur transportasi LRT di seluruh wilayah Indonesia. Maka akan memberikan dampak yang besar dan terciptanya lingkungan yang bersih, sehat, dan bebas dari kemacetan.

Kesimpulannya, LRT merupakan sebuah jalan yang sudah tersedia sejak 2015 lalu, dan ini merupakan awal yang baik untuk mengentaskan masalah-masalah mengenai kemacetan dan lingkungan yang semakin kotor dan tidak sehat. LRT merupakan kiblat transportasi ramah lingkungan dan mampu membawa Indonesia lebih maju kedepannya.


Oleh : Kelvin Wijaya

Sabtu, 16 Maret 2019

Resensi Novel : Senandung Bisu karya Aguk Irawan

Adakah Surga dalam Keluargamu?




Judul Buku : Senandung Bisu
Penulis : Aguk Irawan
Penerbit : REPUBLIKA
Tahun Terbit : 2018
Tebal Halaman : VIII + 388 Halaman

Pasangan suami istri, Dlori dan Zulfin mempercayai pepatah lama "banyak anak banyak rejeki". Hal itu dibuktikan dengan lima anak yang dimilikinya. Tentu saja hal tersebut menimbulkan kasak-kusuk warga di Desa Siwalan. Ditambah dengan panen Dlori yang sukses besar, membuat mulut Wuryani tak berhenti menggunjing keluarga tersebut.

Dalam Karya-karyanya, Aguk Irawan selalu tampil mempesona. Mengupas habis kehidupan muslim. Seperti dalam novel "senandung bisu" ini yang menghadirkan realita melalui intrik-intrik dalam kehidupan bertetangga maupun berkeluarga yang menyayat hati. Meskipun terkesan bertele-tele novel ini membuat setiap orang yang membaca terbawa suasana hingga meneteskan air mata karena haru melihat kehidupan Rahim yang diperlakukan tidak adil. Usaha-usahanya untuk mendapatkan kasih sayang orang tua harus Ia telan mentah-mentah. Ditambah lagi kelahirannya yang tak diharapkan.

Iri hati dan dengki merupakan penyakit hati yang mematikan.  Lima anak yang mereka miliki, namun bukan berarti semuanya dianggap. Rahim si bungsu menjadi korban ketidakadilan kedua orang tuanya. Tak diberi makan secara layak, tak dibiayai pendidikannya, disuruh bekerja seharian. Malang sekali nasibnya.

Begitulah cerita ini dimulai, dari benih iri dan dengki yang menjelma menjadi neraka dalam keluarga. Seharusnya keluarga menjadi tempat berteduh kala dunia luar tak mampu memberi kehangatan, namun jelas fungsinya berbeda seratus delapan puluh derajat bagi Rahim. Ia tak tahu dan tak mampu menerka apakah surga ada di setiap telapak kaki ibu?

Novel ini memberikan pemahaman terhadap kita, untuk menjadi muslim yang sebenar-benarnya, tidak mudah terlena, karena terlena membuat hati lalai dan kelalaian membuat kita goyah. (hal 336). persuasi untuk mengamalkan cinta kasih Ilahi serta penyerahan diri yang sebenar benarnya kepada sang maha pencipta nampak sekali melalui kehidupan Kyai Na'im.

Penulis memberikan sentilan-sentilan tajam di setiap kesempatan dihubungkan dengan rentetan tragedi yang berkaitan satu dengan yang lainnya. Membuat miris sekaligus merinding karena takjub dengan alurnya.

Aguk Irawan menghadirkan dakwah dalam novel tanpa terkesan menggurui. Membuat kita membuka mata bahwa hidup berkeluarga adalah amanah yang harus diemban. Terutama dalam memberikan kasih sayang yang seadil-adilnya terhadap anak-anak kita.

Novel "Senandung Bisu" ini diperuntukkan bagi orang tua, maupun calon orang tua. Sekaligus memberikan ajakan untuk menghindari sifat angkuh, iri, dan dengki. Demi menjaga harkat kita serta kelestarian iman yang nantinya kita pertanggungjawabkan di hadapan sang pencipta.

Peresensi : Kelvin Wijaya

Jumat, 23 November 2018

Tips membuat resensi

Salam Literasi !

hai sobat dunia literasi. kali ini saya akan membahas mengenai cara mudah untuk membuat resensi.

Resensi merupakan kegiatan mengulas kembali isi buku, beserta dengan kelebihan dan kekurangannya. Dalam meresensi kita harus jujur mengungkapkan fakta sesuai dengan keadaan buku yang sebenarnya. Tidak boleh melebih-lebihkan atau malah menjatuhkan buku tersebut.

Tujuan meresensi tiap orang tentu saja berbeda-beda. Ada yang sekedar menulis resensi untuk tugas sekolah, atau juga ada yang menjadikan resensi sebagai penghasilan tambahan.

Namun untuk menjadikan resensi kita memiliki nilai, gampang-gampang susah. kita harus menghasilkan resensi yang komperehensif namun tajam. Bukan hanya sekedar membahas isi buku namun harus menukik dan menggetarkan. Artinya resensi kalian harus mudah dimengerti dan bersifat persuasif.

Banyak dari kalian yang bingung bagaimana cara untuk meresensi agar mudah.
Ada beberapa tips dari saya :

1. Baca buku secara keseluruhan

Apabila kita ingin mengulas sebuah buku, kita harus mengetahui isinya secara keseluruhan. Jangan sampai, hanya membaca 5 bab dari 10 bab buku. Dalam artian hanya baca setengahnya saja. Karena jika demikian, Informasi yang kita serap tidak akurat sehingga penyampaiannya tidak lugas dan terkesan memaksakan.

2. Tandai bagian-bagian penting

Menandai bagian-bagian terpenting dari buku, akan membantu kita dalam meresensi. Ini menghindari kita dari kebingungan dan kehabisan ide menulis di tengah jalan. Tentu saja kalian tidak mau kan, harus membaca ulang buku tebal itu sekali lagi karena lupa dengan hal-hal pentingnya? Maka jangan lupa siapkan stabilo atau pembatas untuk menghindari lupa isinya.

3. Hindari kata "kita", dan "saya"

Meresensi ditujukan untuk banyak orang. Maka perhatikan hal-hal sederhana seperti ini. Contoh "buku ini mengajak kita untuk peduli terhadap lingkungan" bagaimana dengan "buku ini mengajak setiap orang yang membaca untuk peduli terhadap lingkungan" tentu saja opsi kedua lebih enak dibaca. 

4. Ungkapkan secara jujur

Mengungkapkan isi buku secara jujur adalah sebuah hakikat bagi resentator. Ungkapkan apa adanya kelebihan dan kelemahan buku yang kamu baca tanpa menambahi atau mengurangi pesan atau isi dari buku yang kamu baca.

5. Bahas di permukaannya saja

Resensi bukan menceritakan seluruh isi buku yang kalian baca. Namun berisi pesan atau ajakan agar orang yang membaca resensi kalian penasaran dan ingin memiliki bukunya. Jadi, bahas yang ada di permukaannya saja, jangan seluruh hal yang ada di buku itu kalian bahas. Itu sangat tidak efektif.

6. Jangan paksakan jika stuck

Otak manusia perlu beristirahat agar lebih produktif. Maka jangan paksakan apabila kalian kehabisan kata-kata dalam meresensi. Beristirahatlah sejenak untuk memulihkan kemampuan kalian dalam menuangkan kata-kata.

Itu adalah beberapa tips dari saya mengenai cara meresensi buku agar lebih mudah. Semoga artikel ini bermanfaat bagi para resentator maupun calon-calon resentator. Selamat mencoba !

Kamis, 22 November 2018

Kilas Balik Lomba Resensi

Salam Literasi !

Bertemu lagi dengan saya, sobat dunia literasi. Kali ini saya ingin berbagi sedikit pengalaman tentang lomba meresensi yang pernah saya ikuti.

apa sih meresensi itu dan apa tujuannya?
Meresensi adalah kegiatan mengulas kembali isi buku, yang tujuannya adalah :
  1. Memberikan gambaran kepada semua orang tentang buku tersebut
  2. Mempromosikan buku tersebut
  3. Sumber penghasilan
Waktu dulu, setelah membaca novel yang saya beli saya simpan begitu saja. Karena waktu itu saya belum mengetahui apa yang bisa dilakukan lagi dengan sebuah buku? Ya jelas hanya membacanya !

Namun mindset tersebut berubah ketika saya iseng-iseng searching di google mengenai lomba-lomba dalam dunia tulis menulis. kemudian saya tertarik dengan lomba meresensi novel karya Aguk Irawan yang diadakan oleh Republika Penerbit. Apalagi hadiah yang ditawarkan juga lumayan besar.

Akhirnya, saya cari buku Aguk Irawan di toko buku namun tidak ada karena memang toko buku di kota saya tidak sebesar dan lengkap seperti di kota-kota besar lainnya. Apalagi jika mencari buku terbitan yang benar-benar baru.

Akhirnya saya memesan lewat salah satu aplikasi online, buku berjudul senandung bisu. dan selang 4 hari barangnya datang.

Saya baca secara keseluruhan dan mulai membuat resensi. Awal membuat resensi memang agak sulit. Bukan apa-apa, sulit dalam memilih apa saja yang perlu di masukkan dalam resensi kita. Jadi saya akan buat postingan mengenai cara meresensi agar mudah. di postingan berikutnya ya guys.

Nah setelah selesai saya posting di instagram dan link nya saya kirim ke email redaksi republika. awalnya saya berpikir tidak menang karena banyak sekali yang ikut dan tentunya banyak yang lebih baik resensinya dari saya.

Tapi, Puji Tuhan, seminggu setelah saya mengirimkan resensi saya dan tiba waktu pengumuman. Saya terkejut melihat pengumuman melalui post instagram Republika Penerbit. Nama saya tercantum sebagai juara kedua.

Sebuah pencapaian yang membuat saya kaget setengah mati, senangnya bukan main. Harapan saya semakin melesat jauh sekali menembus cakrawala XD ga sia sia saya repot-repot beli di toko online, karena saya tipe orang yang tidak suka beli-beli di online shop.

Setelah 2 minggu hadiah pun datang, ada paket buku dan sertifikat. Juga ada hadiah uang tunai yang lumayan buat anak sekolah seperti saya. Rejeki nomplok.


Nah sekian postingan kali ini, sampai berjumpa di postingan-postingan lainnya guys !

Rabu, 21 November 2018

Reward Resensi dari Penerbit

Salam Literasi !

kembali lagi bersama Kelvin admin dunia literasi di postingan kedua. Hari ini saya akan membahas mengenai reward resensi yang diberikan penerbit untuk tiap naskah resensimu yang diterbitkan di media cetak / media digital. Namun yang saya ketahui, penerbit tidak memberikan reward jika resensimu hanya diposting di medsos, blog, goodreads atau media online lainnya.

Pasti banyak yang bertanya-tanya, apa reward yang diberikan penerbit?
penerbit biasanya akan memberikan reward berupa buku - buku terbitan baru mereka, atau ada juga yang memberikan uang tunai. Sesuai dengan kebijakan penerbitnya.

Biasanya kalian bisa request buku sesuai dengan keinginan kalian. Atau kalau kalian bingung memilih atau tidak bisa memilih aku atau dia *eeeeeh maksudnya milih bukunya, nanti pihak penerbit akan memilihkan buku yang akan diberikan pada kalian.

Kenapa sih penerbit kok mau memberikan reward tiap resensi kita dimuat di media cetak atau digital?
Karena kalian membantu dalam mempromosikan buku-buku terbitan mereka, melalui resensi kalian yang sudah di publikasikan ke berbagai media cetak atau digital. Untuk itu penerbit mengapresiasi dengan memberikan buku-buku terbaru, dan harapannya kalian bisa meresensinya lagi.

Gimana sobat, Meresensi ternyata pekerjaan yang sangat menggiurkan ya? kalian bisa menganak pinakkan buku kalian, lumayan kan bisa dikoleksi atau bisa buat perpustakaan pribadi kalo udah banyak banget xixixi.

Saya berikan contoh salah satu penerbit yang memberikan reward bagi para resentator yang resensinya dimuat di media cetak atau digital, yaitu REPUBLIKA PENERBIT. Di postingan akun instagramnya ada beberapa post yang isinya ajakan untuk meresensi. Seperti ini :
jika kalian penasaran follow aja di instagram @bukurepublika

Itu hanya contoh saja sobat. ga hanya republika kok masih banyak penerbit lain yang memberikan reward resensi, seperti Gramedia, Mizan, dll.

kemudian saya akan memberikan contoh mengonfirmasikan resensi kalian yang sudah dimuat di media cetak. Seperti ini :

Yth bagian promosi Republika Penerbit.
Salam sejahtera,
Semoga bapak/ibu berada dalam lindungan Tuhan yang maha esa.

Dengan ini saya ingin mengonfirmasikan bahwa resensi saya berjudul gagasan, pencerahan, kiat inspiratif BJ Habibie dari buku The Power of Ideas karya A. Makmur Makka dimuat di koran jakarta edisi sabtu 17 November 2018.

Berkenaan dengan itu, sudilah kiranya Republika Penerbit kembali mengirimkan buku-buku terbarunya (request kalian) untuk kembali saya resensi di media cetak atau digital lainnya.

Alamat : ......
No Telepon : .081XXXXXXXXX

Demikian konfirmasi saya, atas perhatian bapak/ibu saya ucapkan terima kasih.

Hormat Saya,
.....

kemudian kalian kirim dengan subyek sesuai dengan ketentuan penerbitnya, kalo di Republika subyeknya : resensi buku. Kemudian kirim ke bagian promosi penerbit tersebut.

Cukup sekian postingan kali ini, semoga bermanfaat !